RENUNGAN
.co
christian
online
Renungan

BIJAK MENGIKUTI JAMAN

Dari Renungan

Langsung ke: navigasi, cari

Oleh: Natalia Sabandar, S.Si (Teol)

Ibuku pernah mengisahkan: saat ia masih kanak-kanak, ada seorang wanita yang kurang waras, namanya, Nyah Bong. Wanita itu lekat di memori ibuku bukan hanya karena ketidakwarasannya, melainkan lebih karena cara berpakaiannya yang sangat tidak biasa: daster, celana panjang, sweater, kaos, dan jas dipakai bersamaan. Itulah sebabnya, ketika ibuku melihat mode saat ini dimana remaja, bahkan ibu-ibu senang memakai pakaian yang bertumpuk-tumpuk, ia menyebutnya dengan mode “Nyah Bong”. Apa yang dulu hanya dipakai oleh orang tak waras justru sekarang menjadi mode mutakhir.

Dunia Yang Terus Berubah
Bukankah ini adalah gambaran kehidupan masa sekarang? Apa yang dulu dianggap tabu, sekarang justru diterima dan dilakukan tanpa malu-malu. Apa yang dulu dianggap sopan, malah saat ini kelihatan kuno dan ketinggalan jaman. Bukan hanya soal mode, tetapi juga soal perilaku. Begitu banyak hal berubah demikian pesat. Mode, norma maupun gaya hidup berubah begitu drastis. Coba saja lihat perilaku anak-anak jaman sekarang yang dengan vulgarnya bermesraan di depan umum. Tak jarang pemandangan itu justru membuat orang yang melihatnya tersipu malu. Alih-alih merasa malu, mereka yang melakukannya justru merasa jumawa. Hidup masa kini bisa diumpamakan sebuah metamorphosis. Kata sederhananya: perubahan bentuk. Dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang luar biasa. Jika diumpamakan seekor ulat yang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu, maka hidup masa kini adalah sebuah kupu-kupu raksasa yang sayapnya begitu kemilau dan penuh warna. Tak jarang, orang memaksa ikut berubah wujud, baik fisik maupun jiwa agar dapat larut dalam kemilaunya. Sehingga, tak sedikit yang menjadi buta terkena cahayanya. Buta mata, pun buta hati. Sesungguhnya, semakin radikal sebuah perubahan, semakin dituntut hati yang bijaksana dalam menyikapinya. Tak lain hanyalah agar perubahan itu sendiri tidak mengakibatkan gegar hati, gegar jiwa, atau terlebih lagi gegar iman. Sebab, sebuah perubahan, semenarik apapun belum tentu berdampak positif bagi yang mengalaminya. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika kita belajar menerima sebuah perubahan, apapun bentuknya, dengan berpegang pada nasihat Paulus: “…tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…” (Roma 12:2). Jika pun kita berubah, maka perubahan itu haruslah berdampak positif dan sesuai dengan kehendak Allah. Tak mungkin kita hanya diam di tempat ketika jaman bergegas berlari menuju sebuah perubahan radikal. Tapi, bukan berarti pula kita harus berubah menjadi serupa jaman. Perubahan, bagaimanapun harus terjadi dan kita mau tak mau terlibat di dalamnya. Hati yang bijak menilai apa yang baik dan apa yang buruk, itulah yang kita perlukan ketika kita berlari-lari mengikuti gerak perubahan yang ada. Dengan demikian, kita ikut berlari tapi tak tersandung. Kita ikut berputar tapi tak kehilangan pegangan. Sebab, kita tahu mana yang benar dan sesuai dengan kehendak Allah. Perubahan apa yang paling berpengaruh dalam hidup kita sekarang ini? Teknologi tentu saja. Setiap orang paling sedikit memiliki satu gadget dalam genggamannya. Sayangnya, perkembangan teknologi ini seringkali tak disikapi dengan bijaksana. Betapa banyak orang yang kehilangan sentuhan komunikasi dengan orang-orang terdekat, hanya karena sibuk berkomunikasi dengan orang-orang yang tak terlihat. Sehingga muncullah jarkon ini: “mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.” Setiap orang tenggelam dalam kecanggihan gadgetnya masing-masing, sehingga kehilangan momen penting dengan orang-orang di sekitarnya. Setiap orang tenggelam begitu dalam di dunia maya, sehingga lupa untuk menghayati dunia nyata.

Dampak Terhadap Anak
Keprihatinan semakin bertambah, ketika anak-anak pun mulai tercemar oleh dampak negatif teknologi. Semakin tahun, semakin muda usia seseorang untuk bisa memiliki gadgetnya sendiri. Bukan pemandangan yang aneh, jika anak usia 2 tahun sudah asyik bermain dengan sebuah gadget. Seolah-olah itulah cara satu-satunya untuk membuat anak duduk diam dengan manis. Ketika mereka menangis dan merajuk, buru-buru orangtua mengeluarkan gadget dan memberikannya. Dan terlihatlah pemandangan ini: baik anak maupun orangtua asyik dengan gadgetnya masing-masing. Tidakkah ini berarti kita sedang membangun sebuah generasi yang melek teknologi tetapi miskin komunikasi? Betapa tidak? Lihat saja kenyataan saat ini yang terpampang dengan jelas di depan mata: saat seorang anak menangis, alih-alih menggendong dan memeluk, orangtua justru menyodorkan gadget-sebuah benda tanpa nyawa- untuk menghibur anaknya. Sehingga, satu saat, ketika sang anak mengalami pergumulan, ia tidak akan datang pada orangtuanya untuk meminta nasihat. Melainkan, ia membuka gadgetnya dan berkicau di twitter atau sekedar menulis status di facebook. Atau, saat mereka butuh seseorang untuk tempat berkeluh kesah, mereka tidak lari pada ayah atau ibu, melainkan membuka gadgetnya dan ber-SMS ria dengan teman-teman seumurnya.

Bagaimana Menyikapi Perubahan
Perkembangan teknologi memang tak mungkin kita tolak. Bagaimanapun, teknologi mutakhir membantu hidup kita dan membuatnya lebih mudah. Dampak positif atau negatif dari perkembangan teknologi kembali berpulang pada masing-masing pribadi. Jika kita memakainya dengan bijaksana, maka dampaknya pastilah positif. Begitupun sebaliknya. Oleh karena itu, belajarlah bijak dalam menyikapinya. Beberapa saran berikut ini kiranya dapat dipakai orangtua dalam menyikapi perkembangan teknologi: Jangan memberikan gadget pada anak usia balita. Ketika mereka merajuk ajaklah mereka bermain petak umpet atau permainan lain yang membuat mereka aktif bergerak dan berinteraksi dengan orang lain. Batasi penggunaan gadget pada anak-anak usia SD dan SMP. Pastikan mereka memakainya hanya untuk kepentingan sekolah. Kalaupun, mereka memakainya untuk game online, dampingi mereka agar tidak memiliki akses untuk membuka game online yang mengandung kekerasan. Beri batas waktu yang jelas dalam pemakaiannya, misalnya: satu hari hanya 2 jam pemakaian. Jangan ijinkan anak-anak usia SD dan SMP membuat akun twitter ataupun facebook. Peraturan batas usia 17 tahun dibuat bukan tanpa alasan. Ajaklah anak-anak usia SMA untuk memakai gadget dengan bijaksana. Beri peraturan yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh mereka tulis dalam akun mereka di media sosial. Sejak dini, jalinlah komunikasi yang baik dengan anak-anak, agar mereka tak segan dan tak sungkan untuk menceritakan berbagai rahasia dengan orangtua. Luangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama, seperti makan malam bersama, nonton bersama atau sekedar ngobrol bersama. Pastikan semua gadget dalam keadaan off selama kegiatan itu berlangsung. Beri contoh dan teladan yang baik dalam pemakaian gadget. Sehingga, anak-anak dapat melihat bahwa orangtua mereka pun bijak dalam menggunakannya.