RENUNGAN
.co
christian
online
Renungan

Mengajarkan Kebohongan Pada Anak

Dari Renungan

Langsung ke: navigasi, cari

Oleh: Wahyu Wibisana

Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa judul artikel ini seperti itu? Saya hanya ingin mengingatkan bahwa sebagai seorang tua, kita terkadang disadari atau tidak sering mengajarkan kebohongan kepada anak-anak kita. Ilustrasi di bawah ini mungkin merupakan pengalaman yang kerap terjadi ketika kita berinteraksi dengan anak-anak.

Suatu kali, karena kurang persiapan seorang guru sekolah minggu melakukan kesalahan fatal. Dia bercerita ketika Yesus sedang dikerumuni orang ramai, Yesus meminta orang yang ada di atas pohon untuk turun.

“Hai Matius, turunlah” kata si guru sekolah minggu menirukan Yesus. Ada seorang murid yang kritis lantas memprotesnya. “Kak, Yesus tidak menyuruh Matius turun. Yang disuruh turun itu Zakheus!”

Si guru sekolah minggu kaget karena dia melakukan sebuah kesalahan fatal. Tapi otaknya segera bekerja. Dia pun berpikir bahwa yang dihadapi hanyalah seorang anak kecil yang dengan mudah dapat dia bohongi. Kemudian dengan tangkas dia menjawab si anak, “Kakak belum selesai ceritanya, karena saat itu Yesus bilang pada Matius. Matius turunlah, tempatmu bukan di situ. Itu tempatnya, Zakheus!”

Peristiwa macam ini bukan hanya terjadi di lingkungan sekolah minggu saja, karena dalam kehidupan sehari-hari, orang tua sangat sering melakukan “kebohongan kecil” macam ini. Mungkin kita berpikir bahwa “ah, hanya anak kecil”.

Tapi sesungguhnya dengan kebohongan kecil itu, kita telah mengajarkan soal kebohongan pada anak-anak kita di masa yang akan datang. Kita secara tidak langsung telah menanamkan bibit-bibit ketidakjujuran pada anak-anak. Karena sifat anak-anak sangat penuh dengan imajinasi, sehingga ketika kita ajarkan mereka tentang ketidakjujuran, tentu hal itu akan berpengaruh ketika mereka besar nanti.

American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, menyatakan bahwa sampai anak-anak berusia 7 atau 8 tahun, anak-anak tidak pernah mengerti bahwa “berbohong” merupakan upaya nyata untuk memperdaya orang lain. Karena itu, “kebohongan” sekecil apapun pastilah berbahaya bagi kehidupan si anak.

Alkitab sendiri mencatat secara tegas tentang arti sebuah kebenaran dalam Matius 5:37. Dikatakan bahwa, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.”

Bukankah kita sering marah besar kalau anak kita ketahuan berbohong. Jadi mengapa sekarang kita harus membohongi mereka? Ajarkan kejujuran walau kadang itu memang terasa pahit, tapi itu adalah sebuah obat mujarab bagi perkembangan anak kita kelak. Dan jangan lupa, kita pun harus berani mengakui kesalahan kita di hadapan anak-anak itu, walaupun kita harus menanggung malu.

Tapi kita pun tak bisa menghukum anak kita jika dia berbohong, kerena mereka mungkin tidak menyadari kalau telah melakukan hal yang salah. Dalam bukunya “Just Tell Me What You Say: Sensible Tips and Scripts for Perlexed Parents”, Betsy Brown Braun menyatakan jika kita bersikap terlalu keras kepada anak kita jika dia berbohong, mungkin di kemudian hari dia akan takut mengakui kesalahannya. Lebih baik biarkan dia mengakui kesalahannya sendiri dan kemudian kita bisa memberinya penjelasan soal kita menghargai semua kejujurannya. Namun si anak tak boleh lagi mengulangi kesalahan yang dia lakukan.