RENUNGAN
.co
christian
online
Renungan

Peran Keluarga Dalam Kelahiran Kristus

Dari Renungan

Langsung ke: navigasi, cari

Peran Keluarga DalamKelahiran Kristus

Oleh: Hans Yakub Lekipera, STh, M.Min

Natal tlah tiba…. Natal tlah tiba… horeeee…. horeeee… horeee…. Sepenggal lagu yang selalu menggema dalam suasana Natal setiap tahunnya. tidak saja menyampaikan bahwa natal telah tiba, tetapi juga keceriaan anak-anak yang begitu bersukacita ketika natal tiba, akan ada kado natal, baju baru, sepatu, dll.

Memang natal identik dengan sukacita dan kado, karena memang itulah yang selalu ditonjolkan, sehingga tidak mengherankan jika anak-anak mengekspresikannya seperti dalam lagu tersebut. Namun sesungguhnya makna Natal jauh lebih mendalam dari sekedar kado bagi anak-anak. Untuk itu, mari kita melihat bagaimana peran keluarga di seputar kelahiran Kristus, yang di dalamnya kita dapat menggali makna sesungguhnya dari Natal itu.

Melalui artikel ini kita mencoba melihat bagaimana peran orang-orang di seputar kelahiran Kristus, di mana mereka tidak dapat dilepaskan pula dari konteks keluarga. Di sini dibatasi hanya menurut kesaksian Injil Lukas.

1. Peran Maria dan Yusuf Tentu yang terutama disorot adalah peran keluarga Yusuf dan Maria. Ada sebuah dinamika yang menarik untuk dilihat. Bagaimana gejolak perasaan Yusuf saat mengetahui Maria tunangannya itu mengandung. Betapa tidak, mereka baru bertunangan, aib dalam masyarakat kalau masih tunangan sudah mengandung. Kita dapat memahami ketika Yusuf berpikiran untuk segera meninggalkan Maria demi terlepas dari gejolak itu. Namun pada akhirnya, Yusuf menyadari akan pekerjaan Roh Kudus dalam situasi itu, mengandungnya Maria. Dengan segala resiko sorotan negatif yang akan dihadapi, ia berkomitmen untuk tetap mendampingi Maria. Ada pengorbanan perasaan, pengorbanan harga diri.

Lebih-lebih Maria, gejolak yang begitu hebat dia rasakan. Betapa tidak ada gejolak dalam dirinya? Ia baru bertunangan, masih perawan, lantas mengandung, apa kata orang-orang? Bagi masyarakat Yahudi saat itu, itu adalah aib.

Maria dan Yusuf siap menanggung segala resiko, dipandang pelanggar norma masyarakat. Namun semua itu mereka mau tanggung karena ketaatan pada kehendak Tuhan. Sebagaimana Maria ucapkan “sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38).

Jadi nampak ada kemauan untuk mananggalkan keakuan diri, dan keberserahan kepada kehendak dan rancangan Tuhan. Jika dikaitkan dengan rancangan keselamatan bagi semua manusia, maka peran yang telah dijalankan oleh Yusuf dan Maria adalah kerelaaan menanggung penderitaan bathin, menanggung aib bagi masyarakat, demi kebutuhan hakiki orang lain yakni keselamatan hidup.

Apakah semangat dan sikap seperti itu dapat kita wujudkan dalam Natal ini? Kerelaan untuk menanggalkan keakuan, yakni dorongan untuk lebih menonjol dari yang lain, keinginan untuk lebih tampil sempurna dari orang lain. Ataukah, justru kita tidak peduli ada orang yang sedang merintih dalam kesesakan hidup, yang terpenting kita tampil dengan baju baru, pesta natal keluarga yang meriah.


2. Peran Yohanes Pembabtis Lukas 1:16–17 memberikan kesaksian bagaimana peran yang akan dimainkan Yohanes Pembabtis: ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” Mendahului Kristus, mempersiapkan jalan bagiNya, dengan jalan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya, dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar.

Nampak di sini ada sebuah proses pembaharuan kehidupan, pembaharuan relasi antar manusia, dan ada pembaharuan pikiran. Yang kesemuanya bagi Kristus Yesus suatu umat yang layak bagi-Nya.

Hal ini menegaskan kepada kita bahwa kelahiran dan kehadiran Kristus, bukanlah sebuah peristiwa biasa. Ada sebuah proses yang mendahului, yakni mempersiapkan umat untuk menyongsongnya. Orang-orang yang menyongsong itu adalah orang-orang yang memiliki relasi yang baik dengan sesamanya, dan memiliki pikiran-pikiran yang baik dan berkenan kepada Tuhan.

Bagaimana peran ini dapat kita mainkan dalam menyongsong Natal? Sudahkan kita membuat orang lain menyongsong Natal sebagai peristiwa kehadiran Allah, oleh karenanya dibutuhkan sebuah kualitas hidup, pembaharuan relasi dan pikiran? Ataukah justru bagi kita Natal hanyalah sebuah seremoni biasa, seremoni sukacita yang hanya bagi diri kita sendiri?


3. Peran Gembala di padang Apa sih peran para Gembala itu? Bukankah hanya berita kelahiran itu yang disampaikan kepada mereka? Kisah para Gembala sering hanya sampai kepada soal berita itu. Mari kita telusuri apa yang mereka lakukan pasca berita itu disampaikan. Pertama, saat berita itu hendak disampaikan, mereka sangat ketakutan atas kehadiran malaikat Tuhan berdiri di depan dan kemuliaan Tuhan menyinari mereka (Lukas 2:9). Setelah berita itu disampaikan, ketakutan itu pun lenyap dan mereka bersepakat untuk pergi ke Betlehem menyaksikan apa yang terjadi. Kedua, setelah di Betlehem mereka menceritakan kembali apa yang mereka saksikan dan dengar tentang berita kelahiran itu. Artinya, mereka mewartakan kembali berita sukacita itu (Lukas 2:17). Ketiga, setelah itu kembalilah mereka sambil memuji dan memuliakan Allah….. (Lukas 2:20).

Mereka harus kembali dalam kehidupan mereka, bukan lagi dalam rasa ketakutan tetapi ada rasa sukacita. Rasa sukacita itu nampak saat memuji dan memuliakan Allah. Padahal kehidupan mereka tetap seperti semula, tidak ada yang berubah. Mereka tetaplah sekelompok orang yang tersisihkan dari pergaulan, dan tetap bergumul dalam hidup. Namun kini mereka berubah dalam semangat, berubah dalam cara pandang terhadap kehidupan yang penuh penderitaan. Mereka kini menghadapi kehidupan dengan pengharapan di dalam Tuhan, yang memungkinkan mereka memuji dan memuliakan Allah. Dapatkah sukacita Natal itu terus terbawa dalam kehidupan kita? Ataukah sukacita itu hanya sebatas dalam perayaan Natal?

Penutup
Tentu pertanyaan pokok bagi kita setelah menelusuri peran orang-orang di sekitar kelahiran Kristus itu adalah, bagaimana dengan kita? Peran apakah yang dapat kita jalankan dalam Natal? Mungkin kita akan berusaha memainkan semua peran itu, atau mungkin pula kita hanya mampu memainkan satu peran saja. Yang jelas, harus ada kesadaran bahwa kehadiran kita tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi kita ada untuk yang lain juga. Karena sesungguhnya Dia hadir untuk kita semua. Selamat Hari Natal 2014, kiranya sukacita Natal dapat kita hadirkan bagi kehidupan orang lain; dan mari menyongsong tahun 2015 dengan berpengharapan di dalam Tuhan.