RENUNGAN
.co
christian
online
Renungan

Prakarsa terhadap Pekerjaan Membosankan

Dari Renungan

Langsung ke: navigasi, cari

Tanggal: 19 Februari

Bangkitlah, menjadi teranglah .... (Yesaya 60:1)

Bila sampai kepada urusan mengambil prakarsa terhadap pekerjaan membosankan, kita harus mengayunkan langkah pertama seolah-olah tidak ada Allah. Tidak ada gunanya menantikan Allah untuk membantu kita -- Dia tidak akan membantu. Akan tetapi, pada saat kita bangkit, segera kita mendapati Dia ada di sana.

Bila Allah memberi kita ilham-Nya, tiba-tiba pengambilan prakarsa menjadi suatu masalah moral, yaitu soal kepatuhan atau ketaatan. Kemudian, kita harus bertindak untuk taat dan tidak terus berbaring tanpa berbuat apa-apa. Jika kita mau bangkit dan menjadi terang, pekerjaan membosankan akan diubahkan secara ilahi.

Pekerjaan membosankan adalah salah satu ujian terbaik untuk menentukan keaslian karakter kita. Pekerjaan membosankan jauh berbeda dari apa pun yang kita anggap sebagai pekerjaan ideal. Pekerjaan membosankan adalah pekerjaan yang sangat berat, kasar, melelahkan dan kotor. Dan ketika mengerjakannya, kerohanian kita segera diuji dan kita akan mengetahui apakah kita benar-benar rohani atau tidak.

Bacalah Yohanes 13. Dalam pasal ini, Allah yang menjelma (berinkarnasi) melakukan teladan terbesar mengenai pekerjaan membosankan: mencuci kaki para nelayan. Kemudian, Dia berkata kepada mereka, "Jadi jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu membasuh kakimu, kamu pun wajib saling membasuh kakimu" (Yohanes 13:14).

Dibutuhkan ilham Allah jika ingin terang Allah menyinari pekerjaan yang membosankan. Dalam beberapa hal, cara seseorang mengerjakan/menjalankan tugasnya membuat pekerjaan itu dikuduskan dan suci selama-lamanya. Hal itu mungkin berupa tugas sehari-hari yang sangat umum/lazim, tetapi setelah kita melihat ia diselesaikan, tugas itu menjadi beda, lain!

Bila Tuhan berbuat sesuatu melalui kita, Dia selalu mengubahnya. Tuhan mengambil tubuh manusiawi kita dan mengubahnya, lalu kini setiap tubuh orang percaya telah menjadi "bait Roh Kudus" (1 Korintus 6:19).