10 Mei 2015: Perbedaan antara revisi
←Membuat halaman berisi '{{Aletea}} {{Mei}} Minggu, 10 Mei 2015 Bacaan: {{Alkitab|Yohanes 15: 9-17}} Nats: Ayat 12 ==Kekuatan Kasih Sebagai Sahabat Allah== Pada hari Minggu yang lalu kita dii...' |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
Baris 1: | Baris 1: | ||
{{Aletea}} {{Mei}} | {{Aletea}} {{Mei}} | ||
[[Berkas:Cover_renungan_aletea_Mei_1.jpg|left|250px]] | |||
Minggu, 10 Mei 2015 | Minggu, 10 Mei 2015 | ||
Baris 12: | Baris 13: | ||
Nampak jelas bagaimana Yesus menggambarkan kesatuan relasinya dengan Bapa sebagai relasi kasih. Sama seperti Bapa dan Anak menyatu dalam kasih, demikian juga kita sebagai muridNya harus menyatu dengan diriNya dalam kasih. Dengan demikian kita pun tetap tinggal di dalam kasih Kristus, Sang Kasih itu. Karena kasih yang telah menyatukan kembali kita dengan Allah. Hal ini sekaligus menunjukkan ketaatan kita pada perintahNya. | Nampak jelas bagaimana Yesus menggambarkan kesatuan relasinya dengan Bapa sebagai relasi kasih. Sama seperti Bapa dan Anak menyatu dalam kasih, demikian juga kita sebagai muridNya harus menyatu dengan diriNya dalam kasih. Dengan demikian kita pun tetap tinggal di dalam kasih Kristus, Sang Kasih itu. Karena kasih yang telah menyatukan kembali kita dengan Allah. Hal ini sekaligus menunjukkan ketaatan kita pada perintahNya. | ||
Keluarga yang dikasihi Tuhan, kasih terbesar yang digambarkan oleh Yesus di dalam ayat 13 adalah kasih yang rela berkorban. Pengorbanan hidup bagi sahabat, orang lain, merupakan sebuah relasi yang diwarnai dengan solidaritas. Bukan sebuah relasi yang bersifat transaksional yang didasarkan pada “kasih karena”. Kristus telah mengasihi kita dengan “kasih walaupun”, maka marilah kita wujudkan kasih yang demikian bagi orang lain. (hyl) | Keluarga yang dikasihi Tuhan, kasih terbesar yang digambarkan oleh Yesus di dalam ayat 13 adalah kasih yang rela berkorban. Pengorbanan hidup bagi sahabat, orang lain, merupakan sebuah relasi yang diwarnai dengan solidaritas. Bukan sebuah relasi yang bersifat transaksional yang didasarkan pada “kasih karena”. Kristus telah mengasihi kita dengan “kasih walaupun”, maka marilah kita wujudkan kasih yang demikian bagi orang lain. (hyl) | ||
Pokok Doa hari ini: | Pokok Doa hari ini: |
Revisi terkini sejak 30 April 2015 00.13
Renungan Harian Keluarga Aletea | |||||
---|---|---|---|---|---|
Renungan | Artikel | Konseling | Kesaksian | Jaringan Pelayan Anak |
Minggu, 10 Mei 2015
Bacaan: Yohanes 15: 9-17
Nats: Ayat 12
Kekuatan Kasih Sebagai Sahabat Allah
Pada hari Minggu yang lalu kita diingatkan akan panggilan kita untuk menghasilkan buah-buah Roh. Sekarang buah-buah Roh itu secara konkrit adalah mengasihi orang lain. Kasih sebagai wujud dari meneladani Kristus. Kekristenan dikenal orang karena dua gagasan penting, yakni keselamatan dan kasih. Kedua hal itu terwujud dalam kehidupan Kristus. Itu berarti bahwa Sang Penyelamat, yaitu Kristus, adalah Sang Kasih. Jadi, kita mengasihi bukan karena kita baik, tetapi karena Dia terlebih dahulu mengasihi. Nampak jelas bagaimana Yesus menggambarkan kesatuan relasinya dengan Bapa sebagai relasi kasih. Sama seperti Bapa dan Anak menyatu dalam kasih, demikian juga kita sebagai muridNya harus menyatu dengan diriNya dalam kasih. Dengan demikian kita pun tetap tinggal di dalam kasih Kristus, Sang Kasih itu. Karena kasih yang telah menyatukan kembali kita dengan Allah. Hal ini sekaligus menunjukkan ketaatan kita pada perintahNya. Keluarga yang dikasihi Tuhan, kasih terbesar yang digambarkan oleh Yesus di dalam ayat 13 adalah kasih yang rela berkorban. Pengorbanan hidup bagi sahabat, orang lain, merupakan sebuah relasi yang diwarnai dengan solidaritas. Bukan sebuah relasi yang bersifat transaksional yang didasarkan pada “kasih karena”. Kristus telah mengasihi kita dengan “kasih walaupun”, maka marilah kita wujudkan kasih yang demikian bagi orang lain. (hyl)
Pokok Doa hari ini:
- Pergumulan Pembaca;
- Keluarga-keluarga Kristen;
- Bangsa dan Negara;
- Pelayanan RHK Aletea.