19 April 2014: Perbedaan antara revisi
Tidak ada ringkasan suntingan  |
k 1 revisi |
(Tidak ada perbedaan)
|
Revisi per 9 Juni 2014 00.35
Renungan Harian Keluarga Aletea | |||||
---|---|---|---|---|---|
Renungan | Artikel | Konseling | Kesaksian | Jaringan Pelayan Anak |
< | April 2014 | > | ||||
'14 | ||||||
M | S | S | R | K | J | S |
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
27 | 28 | 29 | 30 | |||
Kalender Setahun |
Selasa, 1 April 2014
Bacaan: Kejadian 1:26, 27; 2:18-2
Penolong Sepadan
Nats: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia". (Kejadian 2:18)
Cara Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan sangat berbeda. Namun demikian Allah menjadikan mereka sepadan. Maka jadilah Hawa sebagai penolong bagi Adam sesuai rencana Allah.
Setiap perempuan perlu menghayati panggilannya dengan mengingat dua kata kunci: penolong dan sepadan. Menjadi penolong tidaklah mudah, karena itu perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, yang lebih kuat dari debu tanah. Secara logika penolong harus lebih kuat dari yang ditolongnya. Kekuatan itu perempuan peroleh hanya di dalam kuat kuasa Tuhan, bukan dari dirinya sendiri. Sepadan artinya perempuan-laki-laki adalah gambar dan rupa Allah dan bisa saling melengkapi.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, dalam sebuah rumah tangga, laki-laki dan perempuan dapat diilustrasikan sebagai tiang penyangga dan atap, fondasinya adalah Yesus sendiri. Dengan fondasi dan tiang serta atap yang bergaul erat dengan Tuhan, maka rumah tangga itu akan menjadi lebih kokoh. Betapa pentingnya sinergi antara perempuan dan laki-laki. Bila hal ini nyata dalam keluarga kita, sejatinya anak-anak pun dapat belajar menghayati panggilannya, sebagai laki-laki maupun perempuan. (nj)
Pokok Doa hari ini:
- Pergumulan Pembaca;
- Keluarga-keluarga Kristen;
- Bangsa (korban bencana alam Manado);
- Aletea (pendirian Yayasan)
Sabtu, 19 April 2014
Bacaan: Sabtu Sunyi
Yohanes 19:38-42
Nats: Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ (Yohanes 19:42)
Sabtu Sunyi adalah saat di antara Jumat Agung dan Minggu Paskah, di antara kematian Kristus dan KebangkitanNya. Peristiwa penyaliban Kristus, telah mencabik-cabik harapan para murid, sedih, kecewa, takut, dan tercerai-berai. Namun pada Minggu Paskah, kebangkitan yang memberikan pengharapan baru terjadi. Sabtu sunyi, menjadi saat dimana kita berharap, menanti harapan baru dalam kesunyian yang mencekam.
Perikop hari ini menegaskan betapa mencekamnya situasi saat itu. Ayat 42 mengatakan bahwa hari itu adalah hari persiapan, berarti bahwa hari itu adalah hari Sabtu, sehari sebelum Paskah, dan hari Sabat. Mencekamnya situasi itu nampak dari ketakutan yang melanda Yusuf dari Arimatea yang dengan sembunyi-sembunyi meminta mayat Yesus untuk dikubur. Namun ia tetap menerobos sunyi dan mencekamnya hari itu, untuk melakukan sesuatu yang terbaik buat Yesus.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, mungkin kita sadang mengalami suatu situasi sunyi dan mencekam dalam hidup. Bagaimana penantian akan hari kebangkitanNya memberikan kekuatan baru, menguatkan dan mendorong kita untuk tetap berkarya, melakukan yang terbaik untuk Dia? (hyl)
Pokok Doa hari ini:
- Pergumulan Pembaca;
- Keluarga-keluarga Kristen;
- Bangsa (anak-anak terlantar); 4. Aletea (Penerbit Suara Harapan Bangsa)