10 April 2014
Renungan Harian Keluarga Aletea | |||||
---|---|---|---|---|---|
Renungan | Artikel | Konseling | Kesaksian | Jaringan Pelayan Anak |
< | April 2014 | > | ||||
'14 | ||||||
M | S | S | R | K | J | S |
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
27 | 28 | 29 | 30 | |||
Kalender Setahun |
Selasa, 1 April 2014
Bacaan: Kejadian 1:26, 27; 2:18-2
Penolong Sepadan
Nats: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia". (Kejadian 2:18)
Cara Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan sangat berbeda. Namun demikian Allah menjadikan mereka sepadan. Maka jadilah Hawa sebagai penolong bagi Adam sesuai rencana Allah.
Setiap perempuan perlu menghayati panggilannya dengan mengingat dua kata kunci: penolong dan sepadan. Menjadi penolong tidaklah mudah, karena itu perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, yang lebih kuat dari debu tanah. Secara logika penolong harus lebih kuat dari yang ditolongnya. Kekuatan itu perempuan peroleh hanya di dalam kuat kuasa Tuhan, bukan dari dirinya sendiri. Sepadan artinya perempuan-laki-laki adalah gambar dan rupa Allah dan bisa saling melengkapi.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, dalam sebuah rumah tangga, laki-laki dan perempuan dapat diilustrasikan sebagai tiang penyangga dan atap, fondasinya adalah Yesus sendiri. Dengan fondasi dan tiang serta atap yang bergaul erat dengan Tuhan, maka rumah tangga itu akan menjadi lebih kokoh. Betapa pentingnya sinergi antara perempuan dan laki-laki. Bila hal ini nyata dalam keluarga kita, sejatinya anak-anak pun dapat belajar menghayati panggilannya, sebagai laki-laki maupun perempuan. (nj)
Pokok Doa hari ini:
- Pergumulan Pembaca;
- Keluarga-keluarga Kristen;
- Bangsa (korban bencana alam Manado);
- Aletea (pendirian Yayasan)
Kamis, 10 April 2014
Bacaan: Amsal 1:8-19
Payung
Nats: Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu. (Amsal 1:8)
Suatu hari saat masih SD, karena musim hujan ibu menyuruh saya membawa payung. Kebetulan pagi itu cuaca terlihat cerah, saya menolaknya. Saya menyesal karena siangnya hujan deras, saya menunggu di sekolah lebih dari satu jam, dengan perut lapar dan kedinginan.
Didikan ayah dan ibu mendatangkan keindahan, kehormatan dan kebanggaan dalam hidup anak. Tatkala ayah memberi didikan melalui kata dan sikapnya, ibu mengajar tentang hidup, bahkan sesekali ia menghajar agar kita lebih baik. Melalui hidup, perempuan juga ambil peran dalam menanamkan ajaran hikmat.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, setiap ibu memberikan nasihat atau perintah tentu dengan maksud yang baik. Meski mungkin bagi kita sepertinya mengekang kebebasan, mari kita belajar untuk mau mendengarkan. Mungkin saat ini kita sudah dewasa dan lebih cerdas dari ibu, namun bukan berarti kita boleh meremehkan nasihatnya. Karena mereka jauh lebih pengalaman menjalani hidup dari pada kita dan di sana mereka mendapatkan hikmat Tuhan. Ajaran ibu dan ayah harus kita dengar, itu yang Tuhan ajarkan. (rtgr)
Pokok Doa hari ini:
- Pergumulan Pembaca;
- Keluarga-keluarga Kristen;
- Bangsa (Lembaga-lembaga Hukum Negara);
- Aletea (pelayanan di LP Cibinong)