12 April 2014
Renungan Harian Keluarga Aletea | |||||
---|---|---|---|---|---|
Renungan | Artikel | Konseling | Kesaksian | Jaringan Pelayan Anak |
< | April 2014 | > | ||||
'14 | ||||||
M | S | S | R | K | J | S |
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
27 | 28 | 29 | 30 | |||
Kalender Setahun |
Selasa, 1 April 2014
Bacaan: Kejadian 1:26, 27; 2:18-2
Penolong Sepadan
Nats: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia". (Kejadian 2:18)
Cara Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan sangat berbeda. Namun demikian Allah menjadikan mereka sepadan. Maka jadilah Hawa sebagai penolong bagi Adam sesuai rencana Allah.
Setiap perempuan perlu menghayati panggilannya dengan mengingat dua kata kunci: penolong dan sepadan. Menjadi penolong tidaklah mudah, karena itu perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, yang lebih kuat dari debu tanah. Secara logika penolong harus lebih kuat dari yang ditolongnya. Kekuatan itu perempuan peroleh hanya di dalam kuat kuasa Tuhan, bukan dari dirinya sendiri. Sepadan artinya perempuan-laki-laki adalah gambar dan rupa Allah dan bisa saling melengkapi.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, dalam sebuah rumah tangga, laki-laki dan perempuan dapat diilustrasikan sebagai tiang penyangga dan atap, fondasinya adalah Yesus sendiri. Dengan fondasi dan tiang serta atap yang bergaul erat dengan Tuhan, maka rumah tangga itu akan menjadi lebih kokoh. Betapa pentingnya sinergi antara perempuan dan laki-laki. Bila hal ini nyata dalam keluarga kita, sejatinya anak-anak pun dapat belajar menghayati panggilannya, sebagai laki-laki maupun perempuan. (nj)
Pokok Doa hari ini:
- Pergumulan Pembaca;
- Keluarga-keluarga Kristen;
- Bangsa (korban bencana alam Manado);
- Aletea (pendirian Yayasan)
Sabtu, 12 April 2014
Bacaan: Matius 6:19-24; Amsal 12:11, 28:19
Berhikmat Saat Belanja
Nats: Siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia, tidak berakal budi. (Amsal 12:11)
Mall, plaza bukan lagi merupakan sesuatu hal yang luar biasa bagi masyarakat kita, yang menyediakan hampir semua hal mulai dari perabot rumah tangga dan pakaian, salon, pusat jajan, bahkan tempat bermain anak dan bioskop. Berbelanja oleh masyarakat kita cenderung diidentikkan dengan perempuan.
Mari kita renungkan kebiasaan berbelanja kita. Kebutuhan atau keinginan? Ada banyak pertimbangan yang harus kita gunakan, misalnya: apakah kita membutuhkannya? Jika ya, apakah harus sekarang? Apakah benar-benar dibutuhkan atau karena lapar mata saja karena tergiur promo? Jangan memaksakan diri membeli sesuatu di luar kemampuan kita.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, dalam Amsal 12:11, 28:19 dikatakan bahwa siapa yang mengejar barang yang sia- sia tidak berakal budi dan akan kenyang dengan kemiskinan. Dalam hal ini dituntut untuk bisa mengatur keuangan dengan benar. Banyak orang di awal bulan menghambur- hamburkan uang untuk belanja dan kehabisan uang diakhir bulan. Penting untuk dipahami bahwa cara kita mengatur keuangan menunjukkan tingkat kedewasaan rohani dan pengendalian diri kita.(arg)
Pokok Doa hari ini:
- Pergumulan Pembaca;
- Keluarga-keluarga Kristen;
- Bangsa (TNI);
- Aletea (pelayanan di LP Putri Tangerang)