11 Februari 2014: Perbedaan antara revisi

Dari Renungan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
k 1 revisi
(Tidak ada perbedaan)

Revisi per 9 Juni 2014 00.28

Renungan Harian Keluarga Aletea
Renungan Artikel Konseling Kesaksian Jaringan Pelayan Anak Facebook
< Februari 2014 >
            '14
M S S R K J S
  1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28
Kalender Setahun

Sabtu, 1 Februari 2014

Bacaan: Yohanes 3:1-21

Sumber dan Teladan Kasih

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)

Semula orang tua memberikan perhatian penuh kepada saya, apa yang saya minta segera dipenuhi. Keadaan berubah drastis saat mempunyai adik, perhatian mereka tidak lagi terfokus kepada saya. Dalam beberapa kesempatan saya malah harus mengalah, mengubur keinginan dan merelakan adik-adik menikmati apa yang mereka inginkan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kasih manusia itu terbatas, sangat bergantung pada waktu dan keadaan.

Tuhan Allah adalah pribadi yang Kasih-Nya akan dunia ini sudah terbukti ketika mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus. Kasih-Nya tidak terbatas oleh waktu maupun keadaan. Kedatangan Yesus ke dunia membawa tugas mulia untuk menyelamatkan semua orang percaya dari hukuman dosa.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, pengejawantahan Allah dalam Yesus adalah teladan kasih, sumber tertinggi dari kasih itu. Kasih-Nya tak pilih-pilih, dan terus. Berawal dari keluarga mari kita melakukan kasih tanpa mengkotak-kotakkan orang dan tidak musiman. Tentu tidak mudah, namun kalau tidak dicoba kapan akan dimulai. Saat ini adalah momen untuk mengawali kasih yang bersumber pada kasih abadi. (wb)

DOA: Terima kasih ya Tuhan, oleh karena kasih-Mu kami masih ada dan berkarya hingga saat ini. Tolong agar kami mampu terus bersumber pada kasih-Mu dan meneladani-Mu. Amin Selasa, 11 Februari 2014

Bacaan: Roma 12:9-21

Bukan Menang-kalah!

Tetapi jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika haus, berilah dia minum! (Roma 12:20a)

Mengapa orang sulit untuk berbuat baik terhadap musuh? Karena permusuhan menempatkan kita pada posisi kalah atau menang. Dengan menghancurkan seteru, maka kita berada pada posisi sebagai pemenang. Kalau kita tetap melakukan yang baik mungkin saja seteru menganggap kita bodoh dan dia akan makin merasa diri hebat, pandai, angkuh, sombong. Kita akan dianggap kalah. Jadi persoalannya adalah menang-kalah. Saat permasalahan dilihat hanya dari sisi menang-kalah, maka fokus kita adalah diri sendiri.

Tuhan bukanlah penonton yang netral atas semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita. Tuhan kita adalah penentu segala sesuatu dalam kehidupan. Siapa yang berada di pihak-Nya dan melaksanakan amanat kasih-Nya akan selamat. Tetapi bila sebaliknya, akan hidup dalam penderitaan, seperti seorang yang membawa bara api di atas kepalanya sendiri.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, jangan jemu melakukan kebaikan. Jangan merasa kalah karena harus tetap mengasihi dan berkorban. Berilah yang terbaik kepada seteru kita! Ini yang membedakan kualitas anak-anak Tuhan dibandingkan dengan anak-anak dunia ini.(arg)

DOA: Tuhan berkati komitmen kami untuk setia melakukan kebaikan kepada sesama kami. Amin