17 Februari 2014
Renungan Harian Keluarga Aletea | |||||
---|---|---|---|---|---|
Renungan | Artikel | Konseling | Kesaksian | Jaringan Pelayan Anak |
< | Februari 2014 | > | ||||
'14 | ||||||
M | S | S | R | K | J | S |
1 | ||||||
2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | |
Kalender Setahun |
Sabtu, 1 Februari 2014
Bacaan: Yohanes 3:1-21
Sumber dan Teladan Kasih
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)
Semula orang tua memberikan perhatian penuh kepada saya, apa yang saya minta segera dipenuhi. Keadaan berubah drastis saat mempunyai adik, perhatian mereka tidak lagi terfokus kepada saya. Dalam beberapa kesempatan saya malah harus mengalah, mengubur keinginan dan merelakan adik-adik menikmati apa yang mereka inginkan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kasih manusia itu terbatas, sangat bergantung pada waktu dan keadaan.
Tuhan Allah adalah pribadi yang Kasih-Nya akan dunia ini sudah terbukti ketika mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus. Kasih-Nya tidak terbatas oleh waktu maupun keadaan. Kedatangan Yesus ke dunia membawa tugas mulia untuk menyelamatkan semua orang percaya dari hukuman dosa.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, pengejawantahan Allah dalam Yesus adalah teladan kasih, sumber tertinggi dari kasih itu. Kasih-Nya tak pilih-pilih, dan terus. Berawal dari keluarga mari kita melakukan kasih tanpa mengkotak-kotakkan orang dan tidak musiman. Tentu tidak mudah, namun kalau tidak dicoba kapan akan dimulai. Saat ini adalah momen untuk mengawali kasih yang bersumber pada kasih abadi. (wb)
DOA: Terima kasih ya Tuhan, oleh karena kasih-Mu kami masih ada dan berkarya hingga saat ini. Tolong agar kami mampu terus bersumber pada kasih-Mu dan meneladani-Mu. Amin Senin, 17 Februari 2014
Bacaan: Matius 8:1-4
Mematahkan Belenggu
...Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir..." (Matius 8:3)
Yesus tak pernah sepi "penggemar" yang mencari jawab, jalan keluar dari segala macam pergumulan hidup. Dengan modal keberanian imannya, si kusta datang mencari-Nya. Padahal kusta pada zaman itu dikucilkan, dibatasi dengan berbagai larangan, yang justru makin memperparah kondisi psikis sosialnya. Dengan memasungkan status sosialnya.
Yesus bukan hanya menyembuhkan lewat kata-kata-Nya, tetapi sikap-Nya luar biasa. "Mengulurkan tangan-Nya, menjamah" si kusta. Demi kasih-Nya Ia rela "menajiskan" diri, melanggar batas sosial Yahudi. Dari sisi sosial Yesus rugi tetapi Ia dapat memenangkan jiwa si sakit, sekaligus mematahkan belenggu sosial, mengangkat harkat sosialnya sebagai manusia.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, di tengah masyarakat yang serba instan dan cenderung egois ini, nasib baik tidak berpihak pada yang lemah. Di sinilah keluarga kita dipanggil untuk berinisiatif mengulurkan tangan dalam tindakan kasih bagi mereka yang tersisih dan tak masuk hitungan. Robohkan tembok pemisah sosial dengan senyum-sapa, sentuhan, dukungan, kehadiran dan pemberian kasih kita. Melalui itu semua kita mencairkan suasana, memulihkan, memberi "kesembuhan" sosial. (rs)
DOA: Tuhan Yesus, kami ingin belajar dari kasih-Mu yang rendah hati berpihak pada yang lemah. Justru di situlah luar biasa kasih-Mu. Ajari kami, Bapa. Amin