23 Februari 2014
Renungan Harian Keluarga Aletea | |||||
---|---|---|---|---|---|
Renungan | Artikel | Konseling | Kesaksian | Jaringan Pelayan Anak |
< | Februari 2014 | > | ||||
'14 | ||||||
M | S | S | R | K | J | S |
1 | ||||||
2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | |
Kalender Setahun |
Sabtu, 1 Februari 2014
Bacaan: Yohanes 3:1-21
Sumber dan Teladan Kasih
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)
Semula orang tua memberikan perhatian penuh kepada saya, apa yang saya minta segera dipenuhi. Keadaan berubah drastis saat mempunyai adik, perhatian mereka tidak lagi terfokus kepada saya. Dalam beberapa kesempatan saya malah harus mengalah, mengubur keinginan dan merelakan adik-adik menikmati apa yang mereka inginkan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kasih manusia itu terbatas, sangat bergantung pada waktu dan keadaan.
Tuhan Allah adalah pribadi yang Kasih-Nya akan dunia ini sudah terbukti ketika mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus. Kasih-Nya tidak terbatas oleh waktu maupun keadaan. Kedatangan Yesus ke dunia membawa tugas mulia untuk menyelamatkan semua orang percaya dari hukuman dosa.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, pengejawantahan Allah dalam Yesus adalah teladan kasih, sumber tertinggi dari kasih itu. Kasih-Nya tak pilih-pilih, dan terus. Berawal dari keluarga mari kita melakukan kasih tanpa mengkotak-kotakkan orang dan tidak musiman. Tentu tidak mudah, namun kalau tidak dicoba kapan akan dimulai. Saat ini adalah momen untuk mengawali kasih yang bersumber pada kasih abadi. (wb)
DOA: Terima kasih ya Tuhan, oleh karena kasih-Mu kami masih ada dan berkarya hingga saat ini. Tolong agar kami mampu terus bersumber pada kasih-Mu dan meneladani-Mu. Amin Minggu, 23 Februari 2014
Bacaan: Matius 5: 45-48
Menerobos Kepentingan Sendiri
Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? (Matius 5: 47)
Banyak orang mau berbuat baik, tetapi hanya untuk orang-orang tertentu saja, kerabatnya, saudaranya, sahabatnya. Kasih di atas rata-rata berarti kita harus mampu menunjukkan yang berbeda dari kebanyakan orang seperti itu.
Kebanyakan orang Yahudi hanya berbuat baik dan memberi salam kepada saudara-saudaranya. Pola seperti itu tidak terlepas dari pandangan bahwa sesama manusia hanya yang segolongan, sedarah, dll. Tuhan Yesus mau para pengikutNya menunjukkan kualitas yang berbeda, karena pola hidup yang dipraktekan kebanyakan orang Yahudi itu sama juga seperti orang yang tidak mengenal Allah. Belum lagi ada kepentingan diri sendiri di balik perbuatan baik dan salam itu, yaitu menginginkan balasan yang sama.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, ajaran Yesus ini sangat jelas, jangan hanya mau mengasihi saudara kita, kelompok, kerabat dan orang yang kita kenal. Kasih harus mampu menerobos kepentingan diri kita, keluar menerobos masuk ke dalam kehidupan sesama yang mungkin kita sendiri tidak kenal bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Kita bukan orang yang tidak mengenal Allah. (hyl)
DOA: Ya Tuhan, kami mengakui bahwa seringkali kami pun terjebak dalam pola hidup seperti kebanyakan orang Yahudi itu. Tolong kami untuk membaharui diri. Amin