8 Februari 2014

Dari Renungan
Revisi sejak 8 April 2014 05.03 oleh Renungan (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Renungan Harian Keluarga Aletea
Renungan Artikel Konseling Kesaksian Jaringan Pelayan Anak Facebook
< Februari 2014 >
            '14
M S S R K J S
  1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28
Kalender Setahun

Sabtu, 1 Februari 2014

Bacaan: Yohanes 3:1-21

Sumber dan Teladan Kasih

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)

Semula orang tua memberikan perhatian penuh kepada saya, apa yang saya minta segera dipenuhi. Keadaan berubah drastis saat mempunyai adik, perhatian mereka tidak lagi terfokus kepada saya. Dalam beberapa kesempatan saya malah harus mengalah, mengubur keinginan dan merelakan adik-adik menikmati apa yang mereka inginkan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kasih manusia itu terbatas, sangat bergantung pada waktu dan keadaan.

Tuhan Allah adalah pribadi yang Kasih-Nya akan dunia ini sudah terbukti ketika mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus. Kasih-Nya tidak terbatas oleh waktu maupun keadaan. Kedatangan Yesus ke dunia membawa tugas mulia untuk menyelamatkan semua orang percaya dari hukuman dosa.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, pengejawantahan Allah dalam Yesus adalah teladan kasih, sumber tertinggi dari kasih itu. Kasih-Nya tak pilih-pilih, dan terus. Berawal dari keluarga mari kita melakukan kasih tanpa mengkotak-kotakkan orang dan tidak musiman. Tentu tidak mudah, namun kalau tidak dicoba kapan akan dimulai. Saat ini adalah momen untuk mengawali kasih yang bersumber pada kasih abadi. (wb)

DOA: Terima kasih ya Tuhan, oleh karena kasih-Mu kami masih ada dan berkarya hingga saat ini. Tolong agar kami mampu terus bersumber pada kasih-Mu dan meneladani-Mu. Amin Sabtu, 8 Februari 2014

Bacaan: 1 Raja-raja 17:7-24

Berani Percaya

Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia, maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. (1 Raja-raja 17:15)

Di masa kekeringan panjang, kesesakan hidup melanda janda Sarfat dan anaknya. Mereka hanya mempunyai sedikit tepung dan minyak. Hanya cukup untuk membuat satu kali roti. Dalam masa sulit demikian kecenderungan orang tergoda untuk egois, jauh dari rasa peduli dan kasih.

Seolah tak mengetahui pergumulan si janda, Elia hamba Allah itu minta untuk dibuatkan kue kecil lebih dulu baginya. Wajar bila janda Sarfat protes, katanya: "Kami hanya punya sedikit tepung dan minyak untuk membuat roti makanan kami. Dan sesudah kami makan, kami akan mati." Tapi ketika Elia, memintanya lagi, dalam situasi yang begitu kritis, ibu janda itu menurutinya. Didorong keberaniannya untuk percaya kepada hamba Allah itu, kasihnya yang bermurah hati melakukannya juga. Imannya membawa ia keluar dari masalah.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, keberanian untuk tetap percaya di masa sulit harus tetap kita jaga. Keberanian untuk percaya itu makin memantapkan keberserahan kita pada Tuhan, dan memampukan kita untuk berani mengulurkan tangan memberi pertolongan. (mtm)

DOA: Dalam situasi apapun, tolong kami untuk bisa datang kepada-Mu, dan berani untuk percaya dalam segala hal, ya Yesus Tuhan. Amin