9 Februari 2014
Renungan Harian Keluarga Aletea | |||||
---|---|---|---|---|---|
Renungan | Artikel | Konseling | Kesaksian | Jaringan Pelayan Anak |
< | Februari 2014 | > | ||||
'14 | ||||||
M | S | S | R | K | J | S |
1 | ||||||
2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | |
Kalender Setahun |
Sabtu, 1 Februari 2014
Bacaan: Yohanes 3:1-21
Sumber dan Teladan Kasih
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)
Semula orang tua memberikan perhatian penuh kepada saya, apa yang saya minta segera dipenuhi. Keadaan berubah drastis saat mempunyai adik, perhatian mereka tidak lagi terfokus kepada saya. Dalam beberapa kesempatan saya malah harus mengalah, mengubur keinginan dan merelakan adik-adik menikmati apa yang mereka inginkan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kasih manusia itu terbatas, sangat bergantung pada waktu dan keadaan.
Tuhan Allah adalah pribadi yang Kasih-Nya akan dunia ini sudah terbukti ketika mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus. Kasih-Nya tidak terbatas oleh waktu maupun keadaan. Kedatangan Yesus ke dunia membawa tugas mulia untuk menyelamatkan semua orang percaya dari hukuman dosa.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, pengejawantahan Allah dalam Yesus adalah teladan kasih, sumber tertinggi dari kasih itu. Kasih-Nya tak pilih-pilih, dan terus. Berawal dari keluarga mari kita melakukan kasih tanpa mengkotak-kotakkan orang dan tidak musiman. Tentu tidak mudah, namun kalau tidak dicoba kapan akan dimulai. Saat ini adalah momen untuk mengawali kasih yang bersumber pada kasih abadi. (wb)
DOA: Terima kasih ya Tuhan, oleh karena kasih-Mu kami masih ada dan berkarya hingga saat ini. Tolong agar kami mampu terus bersumber pada kasih-Mu dan meneladani-Mu. Amin Minggu, 9 Februari 2014
Bacaan: Matius 5: 38-42
Kesabaran Yang Lebih
Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. (Matius 5: 38-39)
Akibat sakit hati dapat berujung pada konflik, pertikaian, bahkan berujung pembunuhan. Hal ini terjadi karena hasrat kuat ingin balas dendam, tidak ada pengampunan.
Rupanya pola hidup seperti itu sudah terjadi pada jaman Tuhan Yesus, yang menggunakan istilah "mata ganti mata dan gigi ganti gigi". Tuhan Yesus mengajarkan sesuatu yang lain, jangan membalasnya dengan kejahatan. Dengan ungkapan siapa yang menampar pipi kananmu, berikan juga pipi kiri, Tuhan Yesus tidak sekedar mau mengatakan jangan membalas. Ajaran ini melampaui makna harafiahnya, yaitu: kesabaran yang lebih akan memperoleh pengakuan kesamaan martabat dan derajat.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, dalam budaya Yahudi, menampar pipi kiri yaitu dengan menggunakan telapak tangan, si pelaku mau mengatakan kepada korban aku lebih tinggi derajat dari kamu. Biasanya ini di lakukan oleh tuan terhadap hambanya/budaknya. Tetapi jika kemudian ia menampar pipi kanan, berarti ia kemudian menggunakan bagian luar telapak tangannya. Maka maknanya berubah, tanpa disadarinya dia mengaku kamu sama derajatnya dengan aku. (hyl)
DOA: Mampukan kami untuk tidak membalas setiap kejahatan, melainkan kami mau mengampuni dan membalasnya dengan kasih. Amin