18 Februari 2014
Renungan Harian Keluarga Aletea | |||||
---|---|---|---|---|---|
Renungan | Artikel | Konseling | Kesaksian | Jaringan Pelayan Anak |
< | Februari 2014 | > | ||||
'14 | ||||||
M | S | S | R | K | J | S |
1 | ||||||
2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | |
Kalender Setahun |
Sabtu, 1 Februari 2014
Bacaan: Yohanes 3:1-21
Sumber dan Teladan Kasih
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)
Semula orang tua memberikan perhatian penuh kepada saya, apa yang saya minta segera dipenuhi. Keadaan berubah drastis saat mempunyai adik, perhatian mereka tidak lagi terfokus kepada saya. Dalam beberapa kesempatan saya malah harus mengalah, mengubur keinginan dan merelakan adik-adik menikmati apa yang mereka inginkan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kasih manusia itu terbatas, sangat bergantung pada waktu dan keadaan.
Tuhan Allah adalah pribadi yang Kasih-Nya akan dunia ini sudah terbukti ketika mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus. Kasih-Nya tidak terbatas oleh waktu maupun keadaan. Kedatangan Yesus ke dunia membawa tugas mulia untuk menyelamatkan semua orang percaya dari hukuman dosa.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, pengejawantahan Allah dalam Yesus adalah teladan kasih, sumber tertinggi dari kasih itu. Kasih-Nya tak pilih-pilih, dan terus. Berawal dari keluarga mari kita melakukan kasih tanpa mengkotak-kotakkan orang dan tidak musiman. Tentu tidak mudah, namun kalau tidak dicoba kapan akan dimulai. Saat ini adalah momen untuk mengawali kasih yang bersumber pada kasih abadi. (wb)
DOA: Terima kasih ya Tuhan, oleh karena kasih-Mu kami masih ada dan berkarya hingga saat ini. Tolong agar kami mampu terus bersumber pada kasih-Mu dan meneladani-Mu. Amin Selasa, 18 Februari 2014
Bacaan: 2 Korintus 8:1-7
Berbagi dari Kekurangan
Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. (2 Korintus 8:2)
Seorang Pendeta bergumul dengan biaya perawatan ibunya yang sudah berbulan-bulan di rumah sakit, ia bersurat ke sebuah gereja mapan untuk memohon bantuan. Tapi Majelis Jemaat membalas: "Maaf, kami tidak punya program bantuan untuk orang sakit, program kami adalah bantuan untuk PI di pedalaman dan untuk pembangunan gereja di pedesaan." Wah, alasan yang rasanya ironis dan memprihatinkan.
Mereka "mempunyai apa yang diperlukan" untuk berbagi. Masalahnya, seperti halnya jemaat Korintus, mereka terlalu kaku, sibuk mengurusi dirinya sendiri, sehingga tidak punya perhatian untuk berbagi dengan jemaat Yerusalem yang dilanda kelaparan. Jemaat Makedonia punya perhatian! Karena itu - meskipun miskin, mereka dapat "memberi" dan "menolong" dari kekurangan mereka.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, Tuhan menghendaki agar kita peka dan bersedia berbagi kasih kepada orang lain. Mungkin keluarga kita pas-pasan tapi itu bukan alasan untuk tidak peduli dan berbagi. Kita harus bisa membawa keluarga kita mampu memberi dari kekurangan dan keterbatasan. Itulah kasih di atas rata-rata. (arg)
DOA: Tuhan, tolong kami untuk memiliki hati yang peka dan ajar kami untuk mau berbagi dari keterbatasan kami. Amin