24 Februari 2014

Dari Renungan
Revisi sejak 8 April 2014 05.03 oleh Renungan (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Renungan Harian Keluarga Aletea
Renungan Artikel Konseling Kesaksian Jaringan Pelayan Anak Facebook
< Februari 2014 >
            '14
M S S R K J S
  1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28
Kalender Setahun

Sabtu, 1 Februari 2014

Bacaan: Yohanes 3:1-21

Sumber dan Teladan Kasih

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)

Semula orang tua memberikan perhatian penuh kepada saya, apa yang saya minta segera dipenuhi. Keadaan berubah drastis saat mempunyai adik, perhatian mereka tidak lagi terfokus kepada saya. Dalam beberapa kesempatan saya malah harus mengalah, mengubur keinginan dan merelakan adik-adik menikmati apa yang mereka inginkan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kasih manusia itu terbatas, sangat bergantung pada waktu dan keadaan.

Tuhan Allah adalah pribadi yang Kasih-Nya akan dunia ini sudah terbukti ketika mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus. Kasih-Nya tidak terbatas oleh waktu maupun keadaan. Kedatangan Yesus ke dunia membawa tugas mulia untuk menyelamatkan semua orang percaya dari hukuman dosa.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, pengejawantahan Allah dalam Yesus adalah teladan kasih, sumber tertinggi dari kasih itu. Kasih-Nya tak pilih-pilih, dan terus. Berawal dari keluarga mari kita melakukan kasih tanpa mengkotak-kotakkan orang dan tidak musiman. Tentu tidak mudah, namun kalau tidak dicoba kapan akan dimulai. Saat ini adalah momen untuk mengawali kasih yang bersumber pada kasih abadi. (wb)

DOA: Terima kasih ya Tuhan, oleh karena kasih-Mu kami masih ada dan berkarya hingga saat ini. Tolong agar kami mampu terus bersumber pada kasih-Mu dan meneladani-Mu. Amin Senin, 24 Februari 2014

Bacaan: Kisah Para Rasul 14:19-20

Tetap Tenang

Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe. (Kisah Para Rasul 14:20)

Melakukan kebaikan dengan suatu paham yang baru di tengah masyarakat yang kental dengan paham yang sudah mapan, seringkali mendapat penolakan, kebencian, amarah, dendam dsb.

Paulus dan Barnabas berkeliling kota untuk mengabarkan Injil. Orang yang menerima Injil makin banyak jumlahnya. Namun banyak orang Yahudi yang tidak senang dengan kehadiran mereka. Orang-orang itu marah, bahkan berniat membunuh Paulus. Hal itu TIDAK DITANGGAPI oleh Paulus, ia menghindari konflik karena tidak ada gunanya. Malah akan menambah masalah baru dan menghambat Injil.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, selisih pendapat dalam keluarga yang berujung pada kebencian, amarah, dendam, bahkan pembunuhan seringkali terjadi. Itu karena konflik tidak dikelola dengan baik. Mari kita belajar dari Paulus yang mengelola dengan baik konflik itu. Kadang sikap diam dan menghindar menjadi pilihan bijak dalam mengelola konflik, sambil menunggu suasana tenang. Itu bisa menjadi cara untuk mengasihi musuh, dan kitapun dapat terus berkarya dengan baik. Bersikap tetap tenang bisa menjadi cara mengasihi orang yang memusuhi kita. (arg)

DOA: Ya Bapa, beri kami hikmat untuk tetap mengasihi disaat ada kebencian. Amin