26 Februari 2014

Dari Renungan
Revisi sejak 8 April 2014 05.03 oleh Renungan (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Renungan Harian Keluarga Aletea
Renungan Artikel Konseling Kesaksian Jaringan Pelayan Anak Facebook
< Februari 2014 >
            '14
M S S R K J S
  1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28
Kalender Setahun

Sabtu, 1 Februari 2014

Bacaan: Yohanes 3:1-21

Sumber dan Teladan Kasih

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)

Semula orang tua memberikan perhatian penuh kepada saya, apa yang saya minta segera dipenuhi. Keadaan berubah drastis saat mempunyai adik, perhatian mereka tidak lagi terfokus kepada saya. Dalam beberapa kesempatan saya malah harus mengalah, mengubur keinginan dan merelakan adik-adik menikmati apa yang mereka inginkan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kasih manusia itu terbatas, sangat bergantung pada waktu dan keadaan.

Tuhan Allah adalah pribadi yang Kasih-Nya akan dunia ini sudah terbukti ketika mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus. Kasih-Nya tidak terbatas oleh waktu maupun keadaan. Kedatangan Yesus ke dunia membawa tugas mulia untuk menyelamatkan semua orang percaya dari hukuman dosa.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, pengejawantahan Allah dalam Yesus adalah teladan kasih, sumber tertinggi dari kasih itu. Kasih-Nya tak pilih-pilih, dan terus. Berawal dari keluarga mari kita melakukan kasih tanpa mengkotak-kotakkan orang dan tidak musiman. Tentu tidak mudah, namun kalau tidak dicoba kapan akan dimulai. Saat ini adalah momen untuk mengawali kasih yang bersumber pada kasih abadi. (wb)

DOA: Terima kasih ya Tuhan, oleh karena kasih-Mu kami masih ada dan berkarya hingga saat ini. Tolong agar kami mampu terus bersumber pada kasih-Mu dan meneladani-Mu. Amin Rabu, 26 Februari 2014

Bacaan: Lukas 10:29-37

Rela Berjalan Kaki

Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri, lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. (Lukas 10:34b)

Merelakan kendaraan demi seseorang yang terluka dan sama sekali tak dikenalnya; sementara ia sendiri berjalan kaki? Rasanya hampir-hampir mustahil dilakukan orang zaman sekarang. Rasa sosial dan peduli orang zaman ini begitu terluka oleh ketidaktulusan kasih antar sesama dan kejahatan oknum tertentu, dan melahirkan kecurigaan.

Begitu tingginya nilai kemanusiaan di dalam kisah ini, ditunjukkan oleh sosok Samaria. Setelah seorang imam dan seorang Lewi, tidak peduli, ia menolong, membalut luka-lukanya, menyiram dengan minyak dan anggur, lalu menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya. Sementara ia sendiri berjalan kaki. Kerendahan hati yang digerakkan oleh karakter belas kasihan kepada sesama.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, melalui kisah ini kita belajar bahwa kemampuan melakukan kasih itu perlu kerendahan hati dan kerelaan untuk merendahkan diri. Bahwa kasih itu memikirkan kebaikan orang lain. Belajar dari kasih Kristus, mari kita merendahkan diri kita demi orang lain. Kasih di atas rata-rata, mengajarkan kita bahwa pada saat dibutuhkan kita merelakan hak kita bagi tindakan kasih.(mtm)

DOA: Bapa dalam surga, hancurkan egoisme kami untuk merendahkan diri menolong sesama seturut kehendak-Mu. Amin


Matius 5:40-42