28 Februari 2014

Dari Renungan
Revisi sejak 8 April 2014 05.03 oleh Renungan (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Renungan Harian Keluarga Aletea
Renungan Artikel Konseling Kesaksian Jaringan Pelayan Anak Facebook
< Februari 2014 >
            '14
M S S R K J S
  1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28
Kalender Setahun

Sabtu, 1 Februari 2014

Bacaan: Yohanes 3:1-21

Sumber dan Teladan Kasih

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)

Semula orang tua memberikan perhatian penuh kepada saya, apa yang saya minta segera dipenuhi. Keadaan berubah drastis saat mempunyai adik, perhatian mereka tidak lagi terfokus kepada saya. Dalam beberapa kesempatan saya malah harus mengalah, mengubur keinginan dan merelakan adik-adik menikmati apa yang mereka inginkan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kasih manusia itu terbatas, sangat bergantung pada waktu dan keadaan.

Tuhan Allah adalah pribadi yang Kasih-Nya akan dunia ini sudah terbukti ketika mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus. Kasih-Nya tidak terbatas oleh waktu maupun keadaan. Kedatangan Yesus ke dunia membawa tugas mulia untuk menyelamatkan semua orang percaya dari hukuman dosa.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, pengejawantahan Allah dalam Yesus adalah teladan kasih, sumber tertinggi dari kasih itu. Kasih-Nya tak pilih-pilih, dan terus. Berawal dari keluarga mari kita melakukan kasih tanpa mengkotak-kotakkan orang dan tidak musiman. Tentu tidak mudah, namun kalau tidak dicoba kapan akan dimulai. Saat ini adalah momen untuk mengawali kasih yang bersumber pada kasih abadi. (wb)

DOA: Terima kasih ya Tuhan, oleh karena kasih-Mu kami masih ada dan berkarya hingga saat ini. Tolong agar kami mampu terus bersumber pada kasih-Mu dan meneladani-Mu. Amin Jumat, 28 Februari 2014

Bacaan: Matius 9:35-38

Jangan Mati Rasa!

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka...(Matius 9:36)

Dulu gotong-royong merupakan ciri khas masyarakat Indonesia. Sekarang masyarakat cenderung berubah menjadi individualis. Prinsipnya, hidup bebas asal tidak mengganggu kepentingan orang lain. Tidak mau direpotkan dan merepotkan orang lain.

Tuhan Yesus memberikan dasar pemahaman dan sikap yang berlaku di segala jenis masyarakat, kepedulian kasih pada sesama. Yesus antusias melenyapkan segala penyakit dan kelemahan, tanda bahwa Ia selalu punya jawaban bagi setiap orang. Ketika melihat banyak orang, Yesus justru makin tergerak oleh belas kasih. Ia tidak gentar atau menghindar. Terpikir oleh-Nya perlunya banyak tenaga pelayan bagi mereka. Tenaga itu adalah kita.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, dalam hidup bermasyarakat sangat diperlukan sikap hati yang peka, mau peduli yang digerakkan oleh belas kasih. Tidak mati rasa terhadap orang lain. Mungkin pada kita tidak selalu ada jawaban, tetapi mari tetap berada bersama sesama, mencari jalan keluar bersama. Sikap hati yang tidak mati rasa, selalu ada buat sesama. Mereka adalah ladang kasih kita. Kasih di atas rata-rata, pertama-tama butuh kepekaan. (rs)

DOA: Tuhan, di tengah kesibukan hidup, kami mau belajar hidup juga bagi orang lain. Kami mau belajar seperti-Mu, ya Yesus. Amin