10 Maret 2014
Renungan Harian Keluarga Aletea | |||||
---|---|---|---|---|---|
Renungan | Artikel | Konseling | Kesaksian | Jaringan Pelayan Anak |
< | Maret 2014 | > | ||||
'14 | ||||||
M | S | S | R | K | J | S |
1 | ||||||
2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
30 | 31 | |||||
Kalender Setahun |
Sabtu, 1 Maret 2014
Bacaan: Nehemia 5:1-13
Membangun Kepedulian
Nats: Kataku: "Tidaklah patut apa yang kamu lakukan itu! Biarlah kita hapuskan hutang mereka itu!" (Nehemia 5: 9a,10b)
Kepedulian kepada sesama dewasa ini cenderung makin terkikis. Maka sering terjadi dalam hubungan darah, seseorang memang ada ikatan persaudaraan (basodara, sedulur, dll), tapi jika bicara uang (harta), maka lain cerita. Mudah sekali terjadi masalah perebutan harta warisan antar saudara.
Pada jaman Nehemia, rasa sosial (peduli) pada saudara sebangsa menjadi kendor karena masalah sosial yang begitu berat menekan. Muncul soal rentenir, sampai kepada soal gadai-menggadai tanah karena mesti membayar pajak yang ditentukan pemerintah. Kehidupan rakyat semakin berat. Nehemia marah terhadap pelaku ketidakadilan, karena mereka tidak punya rasa peduli pada saudara sebangsanya. Atas arahannya, maka mereka bersedia bahkan berjanji mengembalikan hak-hak rakyat sebagaimana sediakala.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, belajar dari prinsip Nehemia, maka seharusnya kita bersedia untuk berkorban bagi orang-orang yang ditindas. Mungkin kita tidak punya uang cukup untuk membantu mereka tetapi kita bisa terus memperdengarkan suara pembebasan bagi pihak lain. Bermula dari keluarga, mari kita saling membangun dan mengembangkan rasa peduli. (arg)
DOA: Tuhan, mampukan kami untuk peduli pada yang lemah dengan memperjuangkan hak-hak mereka. Amin Senin, 10 Maret 2014
Bacaan: Yunus 1:1-3; 4:2-11
Melayani Hidup
Nats: Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri.... (Yunus 4:11)
Florence Nightingale, puteri seorang tuan tanah dan dari keluarga ningrat, keluar dari zona mewah dan nyamannya. Dengan membawa lampu (The Lady With The Lamp), ia mengunjungi tentara korban perang Krimea- Rusia. Ia tidak mau bermalas-malasan, kebahagiaan dan kemewahannya bukan hanya untuk diri sendiri.
Kontras dengan karakter Yunus, ia tidak sepaham dengan kasih Allah yang mengampuni Niniwe, maka ia melarikan diri dari-Nya dan pergi ke Tarsis. Baginya, Niniwe tak pantas diampuni. Bahwa berkat, pengampunan dan keselamatan Tuhan hanya untuk umat pilihan. Tak terpikirkan oleh Yunus tentang pemberian kesempatan bagi orang lain. Dalam kasus Niniwe ini sangat nyata Tuhan berpihak pada yang lemah. Ia mengampuni dan memberi kesempatan umat untuk berubah. Anak-anak Niniwe lebih disayangi-Nya daripada pohon jarak itu.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, mari meneladani karakter Allah. Bahwa nilai kehidupan itu jauh lebih tinggi daripada penghukuman; menerima orang lain; mengampuni; tidak melukai orang lain. Keluarga adalah wadah kita belajar hidup bersama, belajar mempraktekkan semangat melayani hidup. (rs)
DOA: Allah Bapa, Engkau sangat melayani hidup, mengampuni dan sabar terhadap kami. Tolong kami untuk belajar melayani hidup seperti-Mu. Amin