11 Maret 2014

Dari Renungan
Revisi sejak 8 April 2014 05.03 oleh Renungan (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Renungan Harian Keluarga Aletea
Renungan Artikel Konseling Kesaksian Jaringan Pelayan Anak Facebook
< Maret 2014 >
            '14
M S S R K J S
  1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31
Kalender Setahun

Sabtu, 1 Maret 2014

Bacaan: Nehemia 5:1-13

Membangun Kepedulian

Nats: Kataku: "Tidaklah patut apa yang kamu lakukan itu! Biarlah kita hapuskan hutang mereka itu!" (Nehemia 5: 9a,10b)

Kepedulian kepada sesama dewasa ini cenderung makin terkikis. Maka sering terjadi dalam hubungan darah, seseorang memang ada ikatan persaudaraan (basodara, sedulur, dll), tapi jika bicara uang (harta), maka lain cerita. Mudah sekali terjadi masalah perebutan harta warisan antar saudara.

Pada jaman Nehemia, rasa sosial (peduli) pada saudara sebangsa menjadi kendor karena masalah sosial yang begitu berat menekan. Muncul soal rentenir, sampai kepada soal gadai-menggadai tanah karena mesti membayar pajak yang ditentukan pemerintah. Kehidupan rakyat semakin berat. Nehemia marah terhadap pelaku ketidakadilan, karena mereka tidak punya rasa peduli pada saudara sebangsanya. Atas arahannya, maka mereka bersedia bahkan berjanji mengembalikan hak-hak rakyat sebagaimana sediakala.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, belajar dari prinsip Nehemia, maka seharusnya kita bersedia untuk berkorban bagi orang-orang yang ditindas. Mungkin kita tidak punya uang cukup untuk membantu mereka tetapi kita bisa terus memperdengarkan suara pembebasan bagi pihak lain. Bermula dari keluarga, mari kita saling membangun dan mengembangkan rasa peduli. (arg)

DOA: Tuhan, mampukan kami untuk peduli pada yang lemah dengan memperjuangkan hak-hak mereka. Amin Selasa, 11 Maret 2014

Bacaan: Markus 2:1-12

Pengorbanan Yang Memuliakan Allah

Nats: ... sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat." (Markus 2:12b)

Rumah itu penuh sesak. Sabahat si lumpuh rindu menolong temannya untuk mendapat kesembuhan dari Yesus. Motivasi yang mulia itu mendorong mereka untuk tidak membiarkan kesempatan itu berlalu. Mereka membuka atap, menurunkan tilam tempat orang lumpuh itu berbaring.

Tuhan Yesus melihat apa yang mereka lakukan itu sebagai tindakan iman yang sungguh disertai kebajikan kasih yang tulus. Tuhan melihat iman penderita dan juga orang-orang yang mau menolongnya. Pengorbanan mereka yang tulus mendatangkan berkat bagi penderita. Berbeda sekali dengan pikiran para ahli Taurat. Mereka berpikir dalam hati bahwa Ia menghujat Allah."Siapa yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah sendiri?" Tuhan Yesus menghendaki supaya orang-orang di dunia ini tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa.

Keluarga yang dikasihi Tuhan, marilah kita beriman dengan selalu rela berkorban bukan hanya dengan perkataan, melainkan dengan perbuatan di dalam kebenaran. Pengorbanan kasih yang nyata akan lebih berpengaruh positif di sekitar kita dan mereka akan takjub pada karya Allah. Mulailah dari keluarga kita. (tm)

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih atas pengampunan dosa-dosa kami dan dosa keluarga kami. Puji syukur atas kasih setia-Mu yang tak berkesudahan. Amin