12 Maret 2014
Renungan Harian Keluarga Aletea | |||||
---|---|---|---|---|---|
Renungan | Artikel | Konseling | Kesaksian | Jaringan Pelayan Anak |
< | Maret 2014 | > | ||||
'14 | ||||||
M | S | S | R | K | J | S |
1 | ||||||
2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
30 | 31 | |||||
Kalender Setahun |
Sabtu, 1 Maret 2014
Bacaan: Nehemia 5:1-13
Membangun Kepedulian
Nats: Kataku: "Tidaklah patut apa yang kamu lakukan itu! Biarlah kita hapuskan hutang mereka itu!" (Nehemia 5: 9a,10b)
Kepedulian kepada sesama dewasa ini cenderung makin terkikis. Maka sering terjadi dalam hubungan darah, seseorang memang ada ikatan persaudaraan (basodara, sedulur, dll), tapi jika bicara uang (harta), maka lain cerita. Mudah sekali terjadi masalah perebutan harta warisan antar saudara.
Pada jaman Nehemia, rasa sosial (peduli) pada saudara sebangsa menjadi kendor karena masalah sosial yang begitu berat menekan. Muncul soal rentenir, sampai kepada soal gadai-menggadai tanah karena mesti membayar pajak yang ditentukan pemerintah. Kehidupan rakyat semakin berat. Nehemia marah terhadap pelaku ketidakadilan, karena mereka tidak punya rasa peduli pada saudara sebangsanya. Atas arahannya, maka mereka bersedia bahkan berjanji mengembalikan hak-hak rakyat sebagaimana sediakala.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, belajar dari prinsip Nehemia, maka seharusnya kita bersedia untuk berkorban bagi orang-orang yang ditindas. Mungkin kita tidak punya uang cukup untuk membantu mereka tetapi kita bisa terus memperdengarkan suara pembebasan bagi pihak lain. Bermula dari keluarga, mari kita saling membangun dan mengembangkan rasa peduli. (arg)
DOA: Tuhan, mampukan kami untuk peduli pada yang lemah dengan memperjuangkan hak-hak mereka. Amin Rabu, 12 Maret 2014
Bacaan: 1 Timotius 3:1-7
Mengurangi Jam Pelayanan
Nats: Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? (1 Timotius 3:5)
Seringkali anak dan istri/suami protes ketika begitu sibuknya kita dalam pelayanan. Mereka protes karena kurangnya waktu kita bagi mereka lantaran kesibukan dalam pelayanan. Jika demikian, beranikah kita mengurangi jam pelayanan agar terpenuhi juga kehadiran bagi keluarga?
Tuhan tak pernah ingin kita nampak sibuk melayani di gereja, aktif dalam berbagai kegiatan dan kelihatannya sangat rohani, namun rumah tangga kita retak. Hubungan dengan pasangan makin dingin, hubungan dengan anak pun makin renggang. Hal yang membuat kita merasa berdosa atau kurang rohani sering kali hanyalah pendapat orang lain: bahwa kita "satu-satunya" orang yang bisa melayani; atau kita "undur dari Tuhan" kalau sampai mengurangi jam pelayanan.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, pelayanan memang tetap harus berjalan. Namun jangan sampai kita hebat dalam pelayanan, tetapi keluarga kekurangan kasih sayang dan perhatian. Kita dituntut untuk dapat membagi waktu, sehingga terjadi perimbangan antara pelayanan di Jemaat dan juga di keluarga. Pelayanan kita dalam keluarga adalah cerminan pelayanan kita dalam Jemaat. (rtgr)
DOA: Tuhan, ajar kami bijaksana dalam melayani-Mu baik dalam keluarga maupun dalam jemaat. Amin