15 Maret 2014
Renungan Harian Keluarga Aletea | |||||
---|---|---|---|---|---|
Renungan | Artikel | Konseling | Kesaksian | Jaringan Pelayan Anak |
< | Maret 2014 | > | ||||
'14 | ||||||
M | S | S | R | K | J | S |
1 | ||||||
2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
30 | 31 | |||||
Kalender Setahun |
Sabtu, 1 Maret 2014
Bacaan: Nehemia 5:1-13
Membangun Kepedulian
Nats: Kataku: "Tidaklah patut apa yang kamu lakukan itu! Biarlah kita hapuskan hutang mereka itu!" (Nehemia 5: 9a,10b)
Kepedulian kepada sesama dewasa ini cenderung makin terkikis. Maka sering terjadi dalam hubungan darah, seseorang memang ada ikatan persaudaraan (basodara, sedulur, dll), tapi jika bicara uang (harta), maka lain cerita. Mudah sekali terjadi masalah perebutan harta warisan antar saudara.
Pada jaman Nehemia, rasa sosial (peduli) pada saudara sebangsa menjadi kendor karena masalah sosial yang begitu berat menekan. Muncul soal rentenir, sampai kepada soal gadai-menggadai tanah karena mesti membayar pajak yang ditentukan pemerintah. Kehidupan rakyat semakin berat. Nehemia marah terhadap pelaku ketidakadilan, karena mereka tidak punya rasa peduli pada saudara sebangsanya. Atas arahannya, maka mereka bersedia bahkan berjanji mengembalikan hak-hak rakyat sebagaimana sediakala.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, belajar dari prinsip Nehemia, maka seharusnya kita bersedia untuk berkorban bagi orang-orang yang ditindas. Mungkin kita tidak punya uang cukup untuk membantu mereka tetapi kita bisa terus memperdengarkan suara pembebasan bagi pihak lain. Bermula dari keluarga, mari kita saling membangun dan mengembangkan rasa peduli. (arg)
DOA: Tuhan, mampukan kami untuk peduli pada yang lemah dengan memperjuangkan hak-hak mereka. Amin Sabtu, 15 Maret 2014
Bacaan: Yohanes 4:46-54
Menggeser Kepentingan Diri
Nats: ... pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. (Yohanes 4:47b)
Jika ada salah satu anggota keluarga sakit, pastilah kita segera berusaha untuk mencari pertolongan; membeli obat, membawanya ke dokter atau rumah sakit.
Kerinduan akan kesembuhan anaknya dan keyakinan yang teguh akan kuasa Yesus, telah mendorong pegawai istana itu untuk menjumpai Yesus, memohon agar Ia datang dan menyembuhkan anaknya. (versi Matius dan Lukas: hambanya. Apakah hamba dan begitu dekatnya maka dianggap seperti anak?). Seorang perwira Romawi tabu untuk menjumpai seorang Yahudi. Sebagai tuan, ia memperjuangkan nasib hambanya. Sungguh tindakan pengorbanan yang menggeser kepentingan diri.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, salah satu bentuk apresiasi kita kepada anggota keluarga adalah di saat ada yang sakit dan dalam waktu yang bersamaan kita sedang sibuk, kita mampu menggeser kepentingan diri sendiri untuk menolongnya. Setiap keluarga rindu berada dalam keadaan yang baik. Dan untuk mencapai situasi yang demikian butuh pengorbanan seperti yang dilakukan si pegawai istana Kapernaum itu. Berkorban untuk datang pada Yesus adalah sebuah tindakan iman yang patut diberlakukan dalam kehidupan keluarga. (arg)
DOA: YaTuhan, ajarlah kami untuk mengutamakan kepentingan kaum lemah demi kebaikan dalam hidup bersama. Amin