17 Maret 2014
Renungan Harian Keluarga Aletea | |||||
---|---|---|---|---|---|
Renungan | Artikel | Konseling | Kesaksian | Jaringan Pelayan Anak |
< | Maret 2014 | > | ||||
'14 | ||||||
M | S | S | R | K | J | S |
1 | ||||||
2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
30 | 31 | |||||
Kalender Setahun |
Sabtu, 1 Maret 2014
Bacaan: Nehemia 5:1-13
Membangun Kepedulian
Nats: Kataku: "Tidaklah patut apa yang kamu lakukan itu! Biarlah kita hapuskan hutang mereka itu!" (Nehemia 5: 9a,10b)
Kepedulian kepada sesama dewasa ini cenderung makin terkikis. Maka sering terjadi dalam hubungan darah, seseorang memang ada ikatan persaudaraan (basodara, sedulur, dll), tapi jika bicara uang (harta), maka lain cerita. Mudah sekali terjadi masalah perebutan harta warisan antar saudara.
Pada jaman Nehemia, rasa sosial (peduli) pada saudara sebangsa menjadi kendor karena masalah sosial yang begitu berat menekan. Muncul soal rentenir, sampai kepada soal gadai-menggadai tanah karena mesti membayar pajak yang ditentukan pemerintah. Kehidupan rakyat semakin berat. Nehemia marah terhadap pelaku ketidakadilan, karena mereka tidak punya rasa peduli pada saudara sebangsanya. Atas arahannya, maka mereka bersedia bahkan berjanji mengembalikan hak-hak rakyat sebagaimana sediakala.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, belajar dari prinsip Nehemia, maka seharusnya kita bersedia untuk berkorban bagi orang-orang yang ditindas. Mungkin kita tidak punya uang cukup untuk membantu mereka tetapi kita bisa terus memperdengarkan suara pembebasan bagi pihak lain. Bermula dari keluarga, mari kita saling membangun dan mengembangkan rasa peduli. (arg)
DOA: Tuhan, mampukan kami untuk peduli pada yang lemah dengan memperjuangkan hak-hak mereka. Amin Senin, 17 Maret 2014
Bacaan: Nehemia 2:1-9
Melibatkan Diri
Nats: Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali. (Nehemia 2:5b)
Peribahasa "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri" agaknya sejalan dengan pikiran Nehemia. Baginya kemapanan sebagai juru minuman raja di Babel tidak lantas membuat tenang dan nyaman sementara tanah leluhurnya porak-poranda.
Saat mendengar kabar buruk tentang kondisi tanah airnya ia sedih dan berkabung. Ia memberanikan diri mengutarakannya kepada raja. Keterpanggilannya sebagai anak bangsa memberanikannya untuk melibatkan diri dalam pergumulan bangsanya, sekalipun beresiko hukuman, dan kehilangan kenyamanan. Ia peka, mau repot demi melakukan peran bagi bangsanya. Dengan mengandalkan Tuhan, ia berpikir matang dalam pelibatan dirinya.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, melibatkan diri adalah gambaran semangat berkorban. Melibatkan diri tidak identik dengan mencampuri urusan orang lain; tetapi bentuk kepedulian, kebersediaan hati untuk berbuat sesuatu di saat perlu. Maraknya gadget membuat generasi kita menunduk asyik dengan dunianya sendiri, melunturkan semangat kepedulian dan melibatkan diri pada orang lain. Ini tantangan keluarga kita. Harus ada waktu intens untuk bersama, lepas dari benda-benda yang justru saling mengasingkan satu sama lain. (rs)
DOA: Tuhan di sorga, tajamkanlah kepekaan kami untuk hadir dan bergerak untuk melibatkan diri bagi kebahagiaan orang lain. Amin