19 Maret 2014
Renungan Harian Keluarga Aletea | |||||
---|---|---|---|---|---|
Renungan | Artikel | Konseling | Kesaksian | Jaringan Pelayan Anak |
< | Maret 2014 | > | ||||
'14 | ||||||
M | S | S | R | K | J | S |
1 | ||||||
2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
30 | 31 | |||||
Kalender Setahun |
Sabtu, 1 Maret 2014
Bacaan: Nehemia 5:1-13
Membangun Kepedulian
Nats: Kataku: "Tidaklah patut apa yang kamu lakukan itu! Biarlah kita hapuskan hutang mereka itu!" (Nehemia 5: 9a,10b)
Kepedulian kepada sesama dewasa ini cenderung makin terkikis. Maka sering terjadi dalam hubungan darah, seseorang memang ada ikatan persaudaraan (basodara, sedulur, dll), tapi jika bicara uang (harta), maka lain cerita. Mudah sekali terjadi masalah perebutan harta warisan antar saudara.
Pada jaman Nehemia, rasa sosial (peduli) pada saudara sebangsa menjadi kendor karena masalah sosial yang begitu berat menekan. Muncul soal rentenir, sampai kepada soal gadai-menggadai tanah karena mesti membayar pajak yang ditentukan pemerintah. Kehidupan rakyat semakin berat. Nehemia marah terhadap pelaku ketidakadilan, karena mereka tidak punya rasa peduli pada saudara sebangsanya. Atas arahannya, maka mereka bersedia bahkan berjanji mengembalikan hak-hak rakyat sebagaimana sediakala.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, belajar dari prinsip Nehemia, maka seharusnya kita bersedia untuk berkorban bagi orang-orang yang ditindas. Mungkin kita tidak punya uang cukup untuk membantu mereka tetapi kita bisa terus memperdengarkan suara pembebasan bagi pihak lain. Bermula dari keluarga, mari kita saling membangun dan mengembangkan rasa peduli. (arg)
DOA: Tuhan, mampukan kami untuk peduli pada yang lemah dengan memperjuangkan hak-hak mereka. Amin Rabu, 19 Maret 2014
Bacaan: Kejadian 22:1-19
Rasanya Sakit
Nats: Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. (Kejadian 22:10)
Berkorban itu sakit, karena kita harus melakukan sesuatu yang sebenarnya belum tentu kita rela untuk melakukannya. Mengorbankan anak, rasanya sangatlah sakit dan hampir tak mungkin.
Tindakan Abraham yang mengorbankan anak tunggalnya, yang telah dinantikan selama 100 tahun, bukanlah hal mudah. Alkitab memang tidak menceritakan peperangan batin dalam diri Abraham, tapi kita bisa membayangkan bagaimana rasanya. Hal yang mengejutkan, karena ia tidak menolak permintaan Tuhan. FirmanNya kepada Abraham, "Karena engkau telah berbuat demikian.." artinya Tuhan melihat bahwa Abraham memiliki ketaatan yang sungguh untuk mempersembahkan anaknya sebagai korban.
Keluarga yang dikasihi Tuhan, ada kalanya dalam kehidupan ini kita diperhadapkan pada pilihan untuk mengutamakan kepentingan pribadi atau orang lain. Sulit bagi kita berkorban bagi orang lain, apalagi sesuatu yang hendak dikorbankan itu adalah yang sangat kita banggakan. Lihatlah pengalaman beriman Abraham, Tuhan memberikan sesuatu yang amat besar di luar dugaan. Ketika kita rela memberikan sesuatu dengan kasih yang tulus, Tuhan mempersiapkan mukjizat luar biasa sebagai ganti sakit kita. (arg)
DOA: Ya Bapa, kami ingin mempersembahkan hal terbaik dalam hidup kami sebagai korban yang harum bagiMu. Amin